Browse By

Krisis Overtourism di Jepang: Festival Sakura Fujiyoshida Dibatalkan Akibat Ulah Buruk Turis

Bunga sakura bermekaran di Taman Arakurayama Sengen yang terletak di Kota Fujiyoshida, Jepang. Gunung Fuji dapat terlihat di kejauhan.

FUJIYOSHIDA, PJN Media – Kabar mengejutkan datang dari Negeri Sakura. Pemerintah Kota Fujiyoshida, Prefektur Yamanashi, resmi mengumumkan pembatalan festival bunga sakura tahunan yang telah berlangsung selama satu dekade. Keputusan drastis ini diambil setelah lonjakan jumlah wisatawan dinilai telah merusak martabat kota dan mengganggu kehidupan warga setempat.

Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, menyatakan bahwa kota tersebut sedang mengalami “krisis berat” akibat perilaku wisatawan yang tidak terkendali.

Pariwisata Berlebihan yang Melampaui Batas

Kota Fujiyoshida, yang terkenal dengan pemandangan ikonik Taman Arakurayama Sengen dan latar belakang Gunung Fuji, kini menjadi korban dari popularitasnya sendiri di media sosial. Lemahnya nilai tukar Yen serta viralnya spot-spot foto yang disebut “Instagramable” membuat jumlah pengunjung harian melonjak hingga 10.000 orang per hari.

Namun, lonjakan ini membawa dampak negatif yang signifikan, antara lain:

  • Pelanggaran Privasi: Wisatawan nekat membuka pintu rumah pribadi warga tanpa izin hanya untuk menggunakan toilet.
  • Ulah Tak Manusiawi: Laporan warga menyebut adanya turis yang buang air besar (BAB) di taman milik warga.
  • Sampah & Kebisingan: Sampah yang berserakan di area pemukiman serta kegaduhan saat warga mencoba menegur para turis.
  • Kemacetan Kronis: Lalu lintas kota yang lumpuh total selama puncak musim mekar sakura.

“Demi melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami memutuskan untuk mengakhiri festival ini,” tegas Wali Kota Horiuchi dalam pengumuman resminya, Selasa (3/2/2026).

Fenomena Global: Ketika Ikon Wisata Menjadi Beban

Langkah tegas Fujiyoshida ini bukanlah yang pertama di Jepang. Sebelumnya pada tahun 2024, kota tetangga Fujikawaguchiko terpaksa memasang barikade hitam besar di depan toko swalayan populer untuk menghalangi turis berfoto setelah terjadi pelanggaran parkir dan buang sampah sembarangan secara masif.

Tak hanya di Jepang, tren pengendalian wisatawan juga mulai diterapkan di belahan dunia lain. Di Italia, pihak berwenang Roma mulai memberlakukan biaya masuk sebesar €2 (sekitar Rp40.000) untuk area Air Mancur Trevi guna mengelola kepadatan pengunjung dan biaya pemeliharaan monumen.

Edukasi Etika Wisata: Pelajaran dari Jepang

Pembatalan festival di Fujiyoshida menjadi pengingat keras bagi para pelancong global tentang pentingnya Responsible Travel (Pariwisata Bertanggung Jawab). Keindahan alam dan warisan budaya suatu daerah seharusnya dinikmati tanpa mengorbankan ketenangan hidup penduduk asli.

Meski festival resmi dibatalkan, pihak berwenang tetap bersiaga mengantisipasi lonjakan pengunjung pada bulan April dan Mei dengan pengawasan yang lebih ketat di titik-titik rawan keramaian. (Red.)